Bersyukur saat tertimpa hal-hal yang tidak menyenangkan seperti musibah, sakit dan lain-lain termasuk amal hati yang disyariatkan. Arah bersyukur dalam hal ini ditinjau dari perkara-perkara positif yang terdapat dalam kedukaan yang menimpa. Yaitu dileburnya dosa, terangkatnya derajat, dan banyaknya pahala ketika bersabar menghadapi kedukaan tersebut.
Ibnul-Qayyim menjelaskan hal ini secara spesifik,
"Syukur (dalam kondisi ini) diwujudkan dengan menahan amarah yang muncul (saat tertimpa musibah), menutup (pintu) mengeluh, menjaga etika, dan menempuh jalan orang yang berilmu (dalam menghadapi musibah tsb). Karena dia orang yang bersyukur kepada Allah layaknya rasa syukur orang yang rida dengan kada-Nya." (Lihat: Madarijus-Salikin, vol II/hlm. 254, dan Ihya' Ulumiddin, vol IV/hlm. 125–129)
Disyariatkannya syukur jenis ini atas dasar hadis dari Abu Musa al-Asy'ari. Beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Tatkala anak seorang hamba meninggal dunia, Allah (akan) bertanya kepada para malaikat-Nya: 'Apa kalian telah mencabut nyawa anak dari seorang hamba-Ku?'
Para malaikat menjawab: 'Ya.'
Allah bertanya (lagi): 'Kalian mencabut buah hati hamba-Ku?'
Mereka menjawab: 'Ya.'
Lalu Allah bertanya: 'Apa yang dikatakan hamba-Ku (perihal musibahnya ini)?'
Para malaikat menjawab: "Dia memuji Engkau dan membaca istirja' (kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).'
Kemudian Allah berfirman: 'Bangunkan sebuah rumah di surga untuk hamba-Ku tersebut, dan namaikan rumah itu dengan Baitul-Hamdi (rumah pujian)!'" (HR. At-Tirmidzi, 3/332. Dikomentari sebagai hadits hasan gharib)
Atas dasar inilah ulama hanabilah (Mazhab Hanbali) secara eksplisit menyebutkan, bagi orang yang sakit disunahkan membaca hamdalah ketika ditanya keadaannya saat menyampaikan keluhannya ke dokter. Kesunahan ini menurut mereka dikarenakan ada hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud:
إِذٙا كٙانٙ الشُّكْرُ قٙبْلٙ الشّٙكْوٙى فٙلٙيْسٙ بِشٙاكٍّ
"Ketika bersyukur (dilakukan) sebelum berkeluh-kesah, maka itu tidak diragukan (ketepatannya)." (Hadis ini disampaikan Ibnu Abi Ya'la dalam "Thabaqatul-Hanabilah", vol I/hlm. 151–152).
Bisa jadi usia keislaman kebanyakan orang sudah lama, namun ibadah syukur yang dilakukan masih sebatas nikmat-nikmat yang berupa materi atau kebendaan seperti makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dll.
Sudah saatnya bagi kita, menaikkan level orientasi syukur kita ke tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu rasa syukur atas kenikmatan-kenikmatan hati seperti konsistensi iman, khusyuk, ketenteraman hati, dsb. Bahkan lebih dari itu, mari belajar bersyukur di tengah duka.
Inilah syukur dengan level tertinggi.
Wallahu a'lam.
