Media Informasi Dan Dakwah Pondok Pesantren Al-Ihsan Gembong

JENIS-JENIS LUPA

JENIS-JENIS LUPA


Lupa adalah salah satu ciri kelemahan yang ada pada setiap orang, tak peduli apakah ia berpikir cerdas atau tidak. Sampai ada sebuah idiom Arab mengatakan: 

سمي الإنسان لأنه محل الخطإ والنسيان

"Dinamakan manusia/insan karena ia tempat kekeliruan dan kelupaan (nisyan)."

Dengan demikian, lupa sering digunakan orang untuk beroleh maaf atas suatu kesalahan atau kekeliruan yang telah diperbuat. Bahkan di Alquran dalam surah al-Kahfi: 63 terdapat isyarat bahwa lupa adalah dorongan setan, yaitu ketika murid (pengikut) Nabi Musa as. menjawab pertanyaan beliau dengan mengatakan: "Tidak ada yang membuatku lupa mengingat(makanan) itu kecuali setan".

Dalam pada itu, ada karya menarik yang layak kita baca, karya itu berjudul "Qishshatu Shahibi Yasin" karangan Syekh Sa'id 'Abdul-'Azhim. Melalui kitab itu, kita dapat mengetahui seluk-beluk permasalahan 'lupa'. Sebagaimana disebutkan pada halaman 111—114, Syekh Sa'id dalam karyanya menjelaskan bahwa "lupa" terbagi menjadi beberapa jenis:

1) Lupa yang dimaafkan (ma'fuwwun 'anhu/tidak berdosa). Setiap kasus lupa jenis ini memiliki hukum yang berbeda-beda dalam syariat, seperti makan dan minum di pertengahan puasa karena lupa, lupa satu rakaat di tengah-tengah salat dan bentuk-bentuk lupa lainnya yang tidak berdosa;

2) Lupa yang menjadi petaka dan penyakit/racun. Jika lupa jenis ini menimpa seseorang, maka hal itu bisa membawa kehancuran dan kerugian, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, orang yang tertimpa lupa jenis ini dapat mudah dikuasai dan digoda oleh setan, seperti diisyaratkan firman Allah: "Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah..." (QS. al-Mujadalah: 19)

Orang-orang yang lupa dalam kategori kedua tersebut akan lupa akherat, terlena dalam kesenangan duniawi, tenggelam di jurang kesesatan dan kerusakan serta berpaling dari pekerti-pekerti luhur.

Lupa jenis kedua ini tingkatannya terpaut memandang perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya. Berikut perinciannya:

a) Kondisi lupa yang bisa menjadikan seseorang lupa kepada Tuhan yang menciptakan dan yang memberinya rezeki. Buah dari kondisi ini adalah lupa kepada diri sendiri sehingga pola pikirnya pelakunya akan salah, bahkan cenderung terbalik (sesat). Yang baik akan dipandang buruk dan yang bermanfaat dianggap berbahaya dan sebaliknya. Seseorang dengan karakteristik lupa seperti ini adalah orang yang dikehendaki Allah dalam kalam-Nya: "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka..." (QS. at-Tawbah: 67); dan firman-Nya: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. al-Hasyr: 19)

b) Kondisi lupa yang bisa menjadikan seseorang lupa akan perintah Allah, syariat dan hukum-hukum-Nya, meninggalkan agama-Nya dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia. Allah mengisyaratkan kondisi ini dalam firman-Nya: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Ţāhā:124—125)

c) Kondisi lupa yang bisa menjadikan seseorang lupa akherat dan hal-hal yang terkait dengannya seperti kebangkitan kubur, perhitungan amal, surga dan neraka. Dalam surat Shad Allah berfirman: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (QS. Şhād:26) Juga dalam surat al-Jatsiyah: "Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong." (QS. Al-Jātsiyah:34)

d) Kondisi lupa yang bisa menjadikan seseorang lupa dari apa ia diciptakan dan bagaimana penciptaannya. Dalam surat Yasin Allah berfirman: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (QS. Yasin:77—79)

e) Kondisi lupa yang bisa menjadikan seseorang lupa sampai mengingkari dan mengkufuri eksistensi Tuhannya, tidak mempercayai kehidupan akherat, menghina ayat-ayat dalam kitab suci-Nya, mendustakan rasul-rasul beserta ajarannya. Inilah perilaku orang-orang yang akan mendapatkan kerugian besar di akherat, dan pantas disebut sebagai orang-orang mati sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: "Perumpamaan orang yang ingat Tuhannya dan orang yang tidak ingat Tuhannya adalah laksana orang yang hidup dan orang yang mati."  (HR. Bukhari)

Berkaitan dengan itu, satu-satunya obat yang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit lupa agar tidak sampai mendatangkan petaka-petaka di di dunia dan akherat adalah dengan memberi peringatan (at-tadzkir).

Masalah memberi peringatan adalah urgen dalam syariat Islam. Urgensi memberi peringatan ini tampak jelas jika kita menyimak penjelasan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir (juz 27/h. 50): "Tujuan memberi peringatan adalah mengarahkan manusia untuk beribadah pada Allah dan mengesakan-Nya, serta ikhlas (dalam beribadah) karena-Nya, sebab Allah tidak menciptakan makhluk kecuali untuk beribadah (kepada-Nya). Jadi, tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah sehingga (dengan demikian) memberi peringatan untuk beribadah merupakan sebuah keharusan...”

Bila seseorang telah diingatkan atau diberi peringatan, ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menyalahgunakan 'lupa' agar beroleh maaf atas perbuatannya yang salah itu. Kata dzikir, dzakkara atau dzikra (ingat, mengingatkan dan peringatan) adalah sempalan kata lain dari akar kata dzikir yang berulang-ulang ditekankan dalam Alquran.

Bahkan para Nabi dan Rasul termasuk junjungan kita Nabi Muhammad saw disebut juga sebagai Mudzakkir yakni Pemberi ingat. Dengan tekanan makna yang lebih tegas dan keras, para Nabi dan Rasul disebut juga sebagai Nadzir yakni pemberi peringatan keras kepada manusia yang menentang kebenaran Allah swt. Dalam hal ini Allah swt. berfirman:  “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah  mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. ” (QS. Ibrahim: 5)

Yang dimaksud dengan hari-hari Allah pada ayat di atas ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka. Umat Nabi Musa as. disuruh oleh Allah swt. untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang telah lalu, baik itu yang berupa nikmat atau berupa azab dari Allah swt.. Hikmah dari mengingat kembali peristiwa-peristiwa tersebut adalah supaya umat Musa as. dapat mengambil pelajaran dan selanjutnya bersyukur atas nikmat yang diberikan dan berhenti melakukan kekufuran.

Dari keterangan di atas, jelaslah betapa besar dan penting masalah peringatan dan mengingatkan. Tujuannya adalah agar manusia sebisa mungkin dapat terhindar dari penyakit lupa yang akan menjerumuskannya ke dalam pemikiran salah dan perbuatan sesat. Itulah masalah yang melandasi pengertian kita tentang betapa perlunya menyelenggarakan peringatan-peringatan keagamaan seperti kegiatan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW., dan hari-hari besar Islam lainnya. Wallahu a'lam.