Jika seseorang meneguhkan rasa cinta kepada Allah ke dalam hati, rasa cinta ini akan menjadikan hatinya rida (rela) dan bahagia untuk tetap bersabar menghadapi segala hal. Sehingga tiada yang terbesit dalam kalbunya kala tertimpa sakit dan derita kecuali rasa bahagia dan rida dengan apapun yang dialaminya. Kenapa begitu? Karena di dalam cinta kepada Allah terkandung keridaan akan semua suratan takdir-Nya.
Andai saja seorang mujahid terluka di medan peperangan sampai bercucuran darah, ia tak akan merasakan sakit lukanya. Sebab dirinya sedang sibuk melakukan amal perintah-Nya yaitu jihad. Ia telah tenggelam ke dalam lautan jihad, dan tidak mengetahui luka-luka yang mengenainya, bahkan tiada yang ia lihat di depannya kecuali jihad yang sedang dilakukan. Sama seperti seorang petani ketika bercocok tanam di sawahnya, oleh karena kecintaannya yang besar akan sawah miliknya itu, ia tidak akan merasakan ada duri yang menusuk telapak kakinya saat bercocok tanam kecuali setelah ia selesai dan istirahat dari pekerjaan itu.
Kecintaan kita pada satu hal, baik itu kepada Allah, sawah atau apapun itu akan mendorong kita untuk melakukan satu perbuatan dan bersabar atasnya agar bisa selalu dekat dengan yang dicinta. Dengan itu semua, hati akan menjadi gembira karena dapat menyenangkan yang dicintainya.
Alhasil, cinta kepada Allah akan mendorong kita untuk sabar, sabar akan mendorong kita untuk rida mengarungi jalan takdir-Nya dan rida akan menyelimuti hidupnya dengan rasa bahagia.
