"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan."
(Ali Imran: 195)
♦️♦️♦️
Al-Qur'an tidak mengajarkan diskriminasi antara lelaki dan perempuan sebagai manusia. Laki-laki dan perempuan adalah sama menurut pandangan Allah ta'ala. Keduanya memiliki kemampuan yang sama untuk meraih derajat yang tinggi di hadapan-Nya.
Ayat di atas dan ayat-ayat lain yang semisalnya adalah bentuk usaha al-Qur'an untuk mengikis habis segala pandangan yang mendiskreditkan kaum perempuan.
Adapun beberapa teks keagamaan yang lahiriahnya seolah mendiskreditkan perempuan, kita harus secara kritis membacanya dengan pemahaman yang tepat dan proporsional.
Di antaranya anggapan bahwa Sayyidah Hawa adalah 'penggoda' yang menyebabkan Nabi Adam 'alaihissalam memakan buah terlarang sehingga terusir dari surga.
Menurut Dr. Yusuf al-Qardhawi, anggapan seperti ini tidak dibenarkan. Sumber anggapan ini ialah Kitab Taurat dengan segala bagian dan tambahannya. Ini merupakan pendapat yang diimani oleh kaum Yahudi dan Nasrani, serta sering menjadi bahan referensi bagi para pemikir, penyair, dan penulis mereka. Bahkan tidak sedikit—dan ini sangat disayangkan—penulis muslim yang bertaklid buta dengan pendapat tersebut. [Lihat: Dr. Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu'ashirah, vol II, hlm. 249 dst.)
Bagi orang yang membaca kisah Nabi Adam a.s dalam al-Qur'an yang ayat-ayatnya (mengenai kisah tersebut) terhimpun dalam beberapa surah akan menangkap secara jelas fakta-fakta seperti berikut ini:
Pertama, bahwa taklif Ilahi untuk tidak memakan buah terlarang itu ditujukan kepada Nabi Adam dan Siti Hawa (bukan Nabi Adam saja). Allah berfirman: "Dan kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) jangan kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!" (al-Baqarah: 35)
Kedua, bahwa yang mendorong keduanya dan menyesatkan keduanya dengan tipu daya, bujuk rayu, dan sumpah palsu adalah setan, sebagaimana firman Allah ta'ala: "Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)." (QS. al-Baqarah: 35)
Pendapat al-Qardhawi di atas senada dengan fatwa Syekh 'Athiyyah Shaqr, salah seorang ulama Mesir anggota Majma' al-Buhust al-Islamiyyah dan mantan pimpinan Lajnah Fatwa di al-Azhar, dalam Fatawa wa Ahkam lil-Mar'ah al-Muslimah (hlm. 9-10). Dalam buku kompilasi fatwa itu, Syekh 'Athiyyah mencetuskan, tidak ada hadis shahih marfu' yang menjelaskan bahwa Siti Hawa adalah orang yang menggoda dan mendorong Nabi Adam a.s. untuk memakan buah terlarang. Dalam al-Qur'an pun tidak ditemukan ayat-ayat yang mengkambinghitamkan Siti Hawa dalam masalah ini.
Memang benar, ada hadis mauquf dengan sanad shahih (namun masih dipertentangkan status ke-marfu'-an hadisnya) yang disebutkan Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-'Aliyah (vol I, hlm. 59) di mana hadis tersebut secara implisit menunjukkan bahwa Siti Hawa adalah sosok yang mendorong Nabi Adam a.s. untuk memakan buah terlarang itu. Namun hadis itu tidak memberikan indikasi pasti bahwa Siti Hawa adalah penggoda Nabi Adam a.s. Jika hadis tersebut tidak pasti indikasinya, kita tidak bisa memakai hadis tersebut sebagai hujah untuk menyalahkan Siti Hawa dalam permasalahan ini. Sebagaimana disebutkan dalam Ushul Fikih sebuah kaidah: "ad-dalil idza tatharraqa ilaihi al-ihtimal, saqatha bihi al-istidlal", sebuah dalil ketika mengandung spekulasi (indikasinya tidak pasti), maka tidak dapat dijadikan sebagai argumen.
Jadi, tidak sepantasnya kita mengarahkan semua kesalahan dalam memakan buah terlarang itu kepada Siti Hawa semata hanya berdasarkan dalil yang masih spekulatif tersebut. Meskipun kita tidak menutup mata secara umum wanita memang dapat membujuk dan memberi pengaruh yang besar kepada lelaki.
Ingat! Siti Hawa adalah wanita salehah, yang darinya kita bisa hidup sebagai manusia, yang dari rahimnya menurunkan para nabi dan rasul, yang dari perantaranya lahirlah manusia, bahkan makhluk teragung dan terbaik sejagat raya ini, yakni Baginda kita Nabi Muhammad SAW.
Demikianlah Islam mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan kemuliaan kaum perempuan sebagaimana layaknya manusia secara keseluruhan. Wallahu a'lam bish-shawab.
