Tobat adalah hadiah mahal yang dianugerahkan Allah kepada para hamba-Nya yang saleh. Karena tobat laksana air yang tanpanya kehidupan akan hancur dan fana. Untuk bertobat, seseorang wajib menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan bertekad kuat untuk meninggalkan dan membebaskan dirinya dari semua dosa itu.
Allah ta'ala membuat pintu tobat senantiasa terbuka selamanya. Dalam hal ini, Rasulullah SAW. bersabda: "Sesungguhnya Allah akan menerima tobat seorang hamba selama ia belum sekarat (ruh belum keluar dari jasadnya)." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Tobat memiliki posisi yang agung di sisi Allah ta'ala. Alasannya, tobat merupakan kebaikan yang murni bagi pelakunya (at-taib/orang yang bertobat). Selaras dengan firman Allah: "Kemudian jika kamu sekalian ( orang-orang musyrikin) bertobat, maka bertobat itu lebih baik bagimu..." (QS. at- Taubah: 3)
Syekh Shafa Hamid dalam bukunya "Kun Ta'iban (Jadilah Seorang Yang Bertobat)" menjelaskan, ada beberapa akhlak atau karakteristik seorang yang ahli tobat. Di antaranya adalah:
1) Mengakui dosa. Seorang pelaku tobat akan mengakui semua dosa dan kesembronoannya dalam memenuhi hak-hak Allah;
2) Menyesali dosa. Tidak sah tobat seseorang selama ia belum menyesali dosa-dosanya. Sebab penyesalan merupakan dalil ( indikator) yang menunjukkan niat kuat seorang pelaku untuk tidak mengulangi dosa untuk kedua kalinya;
3) Bersilaturrahim. Dalam hal ini diriwayatkan, ada seorang lelaki menemui Rasulullah SAW. dan berkata: "Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan dosa besar. Lalu bagaimana tobatnya?" Nabi SAW. pun bertanya kepada orang itu tentang sanak keluarga yang dapat perlakukan baik. Beliau berkata kepada orang itu: "Apa kamu punya ibu?" Orang itu menjawab: "Tidak." Kemudian Nabi bertanya lagi: "Apa kamu punya bibi perempuan?" "Ya." jawab orang itu. Lalu Nabi SAW. bersabda: "Maka, berbuat baiklah kepadanya." (HR. at-Tirmidzi);
4) Segera kembali ke jalan yang lurus (Jalan Allah). Seorang muslim jika serius dalam bertobat, maka ia akan bergegas kembali ke jalan Allah yang lurus tanpa ada gengsi dan malu (untuk kembali jadi orang yang lurus);
5) Infak di jalan Allah. Sedekah seorang hamba di jalan Allah dapat memadamkan murka Allah dan dapat melebur dosa dan kesalahan yang dilakukan. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. at-Taubah: 103-104);
6) Tidak mengganggap remeh atau kecil sebuah dosa. Sebuah dosa akan tampak besar di hati seorang yang punya iman karena ia tahu dosa itu adalah sebuah pelanggaran besar terhadap aturan Allah yang Mahapedih siksanya. Jika ia melihat betapa besarnya posisi seorang pelaku dosa karena telah lancang kepada Allah, maka ia tidak akan menganggap kecil dosa sekecil apapun. Dalam hal ini baginda agung Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Orang yang beriman akan melihat dosanya seperti sebuah gunung yang ada di atasnya. Ia takut gunung itu akan menjatuhinya. Dan orang munafik melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu dia pun menerbangkan (mengusir) lalat itu."
---------------
⏯️ Dirangkum dari kitab berjudul "Kun Ta'iban" karya Syekh Shafa Hamid (hlm. 2-8)
