Media Informasi Dan Dakwah Pondok Pesantren Al-Ihsan Gembong

HAKIKAT TOBAT

HAKIKAT TOBAT


Hakikatnya, tobat bukan hanya sebagai penghapus dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarruban ilallah). Karena itu, sekalipun tidak berdosa, manusia tetap diperintahkan untuk bertobat, sebab tobat berdasarkan substansinya (dzatiyyah) merupakan bentuk ibadah (qurbah), sementara ibadah sendiri memang menjadi tujuan awal dari penciptaan manusia. Terbukti, Rasulullah SAW. meskipun sudah terpelihara dari segala dosa (ma'shum), beliau tetap bertobat dan meminta ampun (istighfar) kepada Allah dan bertobat tidak kurang dari 70 kali dalam sehari semalam.

Berkaitan dengan ini, Imam al-Ghazali mengklasifikasikan tobat ada tiga macam:

1️⃣ At-Tawbah, yaitu kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan;

2️⃣ Al-Firar, yaitu lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kondisi yang baik kepada yang lebih baik lagi;

3️⃣ Al-Inabah, yaitu bertobat berulang kali sekalipun tidak berdosa.

Jika seseorang melakukan dosa lalu bertobat, ia baru mencapai tingkat at-taib (orang yang bertobat). Sebuah sifat yang belum menjadi karakter yang menancap kuat dalam dirinya. Lain halnya jika ia sudah terbiasa melakukan banyak tobat meskipun tidak karena didasari dosa, maka orang ini telah menjadi at-tawwab, yaitu seseorang yang memiliki sifat tobat sebagai karakter (akhlak) yang telah melekat kuat dalam hatinya. Dan inilah karakter yang dimiliki Rasulullah SAW.

Tobat dalam pandangan ulama sufi pada umumnya adalah tobat yang sebenar-benarnya tobat, yang tidak akan membawa pada dosa lagi. Dan untuk mencapai tingkatan tingkatan tobat yang sejati ini terkadang tobat tidak dapat dicapai dengan sekali saja. Dikisahkan, ada seorang sufi sampai melakukan 70 kali tobat sehingga baru bisa mencapai tingkatan tobat yang sebenar-benarnya.

Dari keterangan di atas, semoga kita dapat menjadikan tobat sebagai akhlak dan karakter kita (at-tawwab). Dengan mempunyai karakter at-tawwab ini kita akan bisa mencapai tobat kategori al-Firar (kembali dari yang lebih baik kepada yang lebih baik lagi) dan tobat kategori al-Inabah (bertobat bukan karena dosa tetapi semata-mata mengharap pahala dan menaati perintah Allah). Karakter at-tawwab inilah yang akan mengantarkan kita kepada tingkatan seorang mukmin sejati, yaitu seorang yang selalu menjaga kesucian diri dari segala dosa, tidak pernah lagi terbersit dosa dan keinginan untuk melakukannya (al-ghafilin 'anil-ma'ashi) serta senantiasa berprinsip menjadi sosok yang lebih baik setiap harinya.

Allah berfirman:

 إن الله يحب التوابين ...

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertobat....." (QS. al-Baqarah: 222)