Penting untuk diketahui, bahwa syukur tidak selalu ditujukan kepada Allah, melainkan juga ditujukan kepada sesama manusia. Dalam bahasa Indonesia, syukur kepada sesama manusia ini disebut terima kasih.
Islam memerintahkan umatnya untuk membalas kebaikan orang lain dengan berterima kasih atau bersyukur. Bahkan dinyatakan bahwa keengganan untuk bersyukur kepada manusia berarti keengganan untuk bersyukur kepada Allah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda:
Islam memerintahkan umatnya untuk membalas kebaikan orang lain dengan berterima kasih atau bersyukur. Bahkan dinyatakan bahwa keengganan untuk bersyukur kepada manusia berarti keengganan untuk bersyukur kepada Allah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda:
من لم يشكر الناس لم يشكر الله
"Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. at-Thabrani dari Jarir)
Berterima kasih atas kebaikan sesama manusia sangat penting untuk menciptakan kebaikan bersama. Ia dapat membangkitkan semangat dan tekad para pelaku kebajikan yang ikhlas dalam beramal untuk semakin giat. Mereka melihat bahwa amal kebajikan mereka bermanfaat untuk orang lain, sehingga ia berusaha menambahnya. Sebaliknya, manakala mereka melihat bahwa kebajikan yang mereka lakukan tersia-sia karena seolah-olah tidak dianggap atau bahkan diingkari, mereka pun akan berhenti berbuat.
Seperti dikatakan oleh Muhammad Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar (vol II, hlm. 47), keengganan kita untuk berterima kasih kepada sesama manusia atas kebajikan yang telah dilakukannya kepada kita atau kepada orang lain, merupakan bentuk kejahatan kita kepada orang banyak dan kepada diri kita sendiri. Sebab, jika pelaku kebajikan tidak memperoleh tanggapan yang baik, bahkan sebaliknya, diingkari kebajikannya, maka orang banyak biasanya enggan melakukan amal kebajikan. Paling tidak akan melemahkan minat mereka untuk berbuat kebajikan lagi. Maka kita pun merugi karenanya.
Sekian.
Sekian.
