Media Informasi Dan Dakwah Pondok Pesantren Al-Ihsan Gembong

GENERASI MUDA YANG GEMILANG

GENERASI MUDA YANG GEMILANG


Penghuni masa depan adalah generasi remaja pada hari ini. Mereka adalah generasi yang menjadi harapan semua orang dalam mengantarkan bangsa menuju kejayaan yang didamba-dambakan.

Orang tua yang berambisi untuk menjadikan anaknya sebagai generasi ideal dan gemilang agar siap berhadapan dengan peradaban tentunya membutuhkan ilmu dan kerja sama dari segala pihak serta program/strategi mendidik yang tepat agar dapat melejitkan kepribadian yang sempurna dan selanjutnya dapat memenuhi ekspektasi menjadi generasi penerus yang dapat diandalkan.

Pengertian Remaja
Remaja, yang dalam Bahasa latin disebut adololescene, secara bahasa berarti tumbuh atau tumbuh dewasa. Istilah adolescene atau masa remaja, secara psikologis mempunyai arti lebih luas, yaitu individu yang tumbuh dewasa sehingga menjadi matang yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.

Masa remaja dan pemuda atau masa dewasa dini sering disebut dengan ungkapan generasi muda. Menurut Ensyclopedia Americana, “A generation is considered to be about 30 years.” Sebuah generasi yang dianggap berada pada kisaran usia 30 tahun (lihat: Ensyclopedia Americana, Volume 12 h.234). Sementara Alquran menyatakan bahwa usia kematangan itu ketika seorang individu mencapai usia 40 tahun.

Alquran menggunakan beberapa istilah yang berarti pemuda atau generasi muda seperti istilah fatâ yang diulang sebanyak empat kali, fityah yang diulang sebanyak dua kali, fityân yang hanya disebut satu kali, fatayât yang diulang dua kali dan fatayâni yang hanya disebut satu kali yang tersebut pada surat an-Nisâ, Yûsuf, al-Kahfi, al-Anbiyâ dan an-Nûr (lihat: Muhammad Fuâd `Abdul-Bâqî, al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâzhil-Qurân al-Karim, cet. ke-4, Beirut: Dârul-Fikr, 1994/1414, h. 650–651). Jadi, secara keseluruhan perkataan fatâ di dalam Alquran dengan segala bentuk perubahan tashrîf-nya diulang sebanyak sepuluh kali. Sementara itu, menurut ar-Râghib al-Asfahânî, bentuk jamak dari kata fatâ ada dua, yakni fityah dan fityân, sedangkan bentuk jamak dari fatâtun adalah fatayât yang berarti pemudi atau remaja putri (lihat: Ar-Râghib al-Asfahânî, Mu`jam Mufradâti Alfâzhil-Qurân, Beirut: Dârul-Fikr, t.t., h. 386).

Sementara itu, Rasulullah SAW. dalam sabdanya menggunakan istilah syâb dalam bentuk mufrad (tunggal), atau syabâb dan syubbân dalam bentuk jamak yang semuanya berarti pemuda. Menurut Ibnu Manzhûr, salah satu arti kosa kata syâb adalah seseorang yang sudah sempurna perkembangan fisik dan kecerdasannya (lihat: Jamâluddîn Abûl-Fadhal Muhammad bin Makram bin Manzhûr al-Anshârî, Lisânul-`Arab, Jilid 1, cet. Ke-1, Beirut: Dârul-Kutub al-`Ilmiyyah, 2002/1424, h. 558).

Alquran menyebutkan bahwa karakter remaja atau pemuda yang bisa menjadi uswah, teladan, dan sumber inspirasi bagi sesama sepanjang zaman adalah remaja dan pemuda yang memiliki: nilai idealisme, kejuangan dan kepeloporan; dedikasi, loyalitas, dan pengabdian kepada orang banyak; keteguhan dalam mempertahankan keimanan; dan perjuangan hidup menghadapi kesulitan menuju puncak prestasi yang dapat dijelaskan sebagai berikut (lihat: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Pembangunan Generasi Muda; Tafsir Al-Qur`an Tematik, cet. Ke-1, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, 2011/1432, h. 4—16).

Nilai Idealisme, Kejuangan dan Kepeloporan Pemuda
Idealisme, perjuangan dan kepeloporan pemuda dalam menegakkan prinsip tauhid di tengah para penyembah berhala muncul pada surat al-Anbiyâ ayat 60: “Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrâhîm."

Ayat ini menjelaskan bagian dari kisah perjuangan seorang pemuda dalam menegakkan prinsip tauhid di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala. Pemuda itu bernama Ibrâhîm, lahir di Ur, Kaldea, Babilonia.

Alquran menjelaskan karakteristik pemuda yang memiliki idealisme, kejuangan, dan kepeloporan dalam menegakkan prinsip tauhid sebagai berikut.

1) Mendapatkan ar-Rusyd, Bimbingan Dari Allah
Nabi Ibrâhîm a.s. adalah pemuda yang mendapatkan ar-rusyd, sehingga ia sangat kritis terhadap keyakinan bapak dan kaumnya dan berusaha mendobraknya dengan program pemurnian akidah sebagaimana dijelaskan pada surat al-Anbiyâ ayat 51—52: “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrâhîm hidayah kebenaran sebelum (Mûsâ dan Hârûn), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrâhîm berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”

Menurut al-Alûsî, konsep ar-rusyd pada ayat di atas adalah bimbingan yang layak diterimanya (Ibrâhîm) dan orang-orang yang seperti beliau dari kalangan para rasul; yakni bimbingan yang sempurna dalam bentuk guidance (petunjuk/bimbingan) guna mereformasi agama dan kehidupan dunia dengan norma-norma ilahiah. Ada juga ulama tafsir yang menyebutkan bahwa guidance itu dalam bentuk ash-shuhuf, al-hikmah dan at-taufîq, yakni mendapatkan taufik untuk melakukan kebaikan meskipun beliau dalam usia remaja.

2) Memiliki Pola Pemikiran Yang Logis dan Kritis
Nabiyyunâ Ibrâhîm a.s. adalah pemuda yang mempunyai pola pemikiran yang logis dan kritis. Ia dengan semangat idealismenya, menghancurkan berhala-berhala, kecuali satu berhala yang paling besar. Ia menghadapi para pemegang otoritas di Babilonia, yang menyaksikan berhalanya hancur, dengan dialog-dialog rasional.

Nabi Ibrâhîm dinilai oleh rezim yang berkuasa dan memegang otoritas di Babilonia telah melakukan tindakan subversif (gerakan dalam usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di luar undang-undang), menghancurkan berhala-berhala. Ia harus dibawa ke meja hijau untuk diadili dengan disaksikan oleh banyak orang. Dalam proses pengadilan itu, majelis hakim mengajukan pertanyaan kepada Ibrâhîm muda sebagai berikut: “Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrâhîm?” (al-Anbiyâ: 62). Pertanyaan majelis hakim itu dijawab oleh pemuda Ibrâhîm dengan pemikiran rasional seperti tercermin pada surat al-Anbiyâ: 63. “Ibrâhîm menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara."

Jawaban Nabi Ibrâhîm yang cerdas itu, telah menyadarkan mereka bahwa menyembah berhala itu merupakan perbuatan bodoh. Menurut ash-Shâbûnî, jawaban beliau itu telah mengembalikan mereka pada pemikiran rasional dan perenungan yang mendalam. Lalu mereka berkata kepada sesama mereka, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri) dengan menyembah benda-benda yang tidak dapat berbicara.” (Lihat: Muhammad `Alî ash-Shâbûnî, Shafwatut-Tafâsir, Jilid II, Jakarta: Dârul-Kutub al-Islamiyyah, t.t., h. 276—278)

Dari kajian tafsir tentang kandungan ayat-ayat di atas, tercermin bahwa sosok atau profil Nabi Ibrâhîm adalah sosok intelektual yang kesadaran tauhidnya tertanam kokoh dalam jiwanya sekaligus memiliki pemikiran rasional. Ia pemuda yang mampu melakukan mujâdalah (perdebatan) dengan cara-cara santun yang santun, hati yang dingin, dan mampu mengandalkan kekuatan logika dengan excellence. Nabi Ibrâhîm berhasil mencapai target mujâdalah, berbicara tentang Tuhan dengan mereka yang menolak Tuhan dengan mujâdalah yang lebih baik dan lebih sempurna.

3) Bertanggung Jawab Atas Tindakan, Berani Menerima Hukuman
Prinsip tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrâhîm sejak remaja di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala itu telah menumbuhkan tanggung jawab dan keberanian menghadapi resiko. Beliau tidak gentar menerima hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup yang diputuskan oleh pemegang otoritas di kerajaan Babilonia. Sebagaimana dijelaskan pada ayat Quran (al-Anbiyâ: 68): "Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak."

5) Dedikasi, Loyalitas, dan Pengabdian Kaum Muda


Alquran menjelaskan salah satu profil generasi pemuda yang ideal adalah generasi yang memiliki dedikasi terhadap pekerjaan, memiliki loyalitas kepada mitra kerja, dan pengabdian yang tulus kepada sesama yang membutuhkan, terutama kaum duafa. Profil pemuda seperti itu tergambar pada surat al-Qashash :23—26: “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu´aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu´aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya."

Dari kisah Nabi Mûsâ di atas, dapat dirumuskan beberapa pelajaran penting yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda, yakni sebagai berikut: (1) Nabi Mûsâ adalah pemuda yang memiliki kompetensi (al-qawiyy al-amîn/kuat fisiknya untuk bekerja dan memegang amanah atau dapat dipercaya) sehingga mudah untuk mendapatkan pekerjaan. (2) Nabi Mûsâ adalah pemuda yang lebih mendahulukan kepedulian dan tanggung jawab untuk menolong yang lemah. Tindakan ini termasuk menebar kebaikan yang akan menghasilkan kebaikan yang lebih besar. Karena dalam menolong dua putri Syekh Madyan (Nabi Syu`aib) tersebut, Nabi Mûsâ telah menunjukkan kualitas kerja ikhlas, kerja keras dan kerja cerdas.

6) Keteguhan Pemuda Dalam Mempertahankan Keimanan
Karakter generasi muda yang teguh pendirian dalam mempertahankan iman tergambar pada kisah Ashhâbul-Kahfi  (al-Kahfi :10): “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."

Al-Maraghî ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan, “Ingatlah, wahai Rasulullah, ketika para pemuda itu mencari perlindungan ke dalam gua karena mempertahankan keyakinan agamanya dari kekejaman para penyembah patung dan berhala-berhala”. Mereka adalah para pemuda yang beriman tetapi keimanan mereka menjadikan dirinya terancam dari lingkungan yang berbeda agama (lihat: Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsîrul-Maraghi, cet. Ke-1, Jilid VI, Beirut: Dârul-Fikr, 2001/1421, h. 258).

7) Perjalanan Hidup Dari Kesulitan Menuju Puncak Prestasi
Alquran menjelaskan pola kehidupan remaja yang mengalami kesulitan, tetapi berkat kegigihannya dalam mengubah nasib berhasil meraih puncak prestasi. Hal itu terdapat pada kisah Nabi Yûsuf a.s. Sosok remaja yang mengalami kesulitan, tetapi berkat pertolongan Allah berhasil meraih puncak prestasi menjadi pejabat negara sekaligus menjadi rasul. Kesabaran Nabi Yûsuf waktu remaja, dalam menghadapi berbagai kesulitan yang menimpa dirinya menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi kesulitan sekaligus meraih puncak prestasi kemuliaan dunia dan akherat. Dalam diri Nabi Yûsuf juga terdapat kredibilitas, kompetensi dan keterampilan yang merupakan modal utama yang harus dimiliki generasi muda dalam meraih sukses.

8) Tanggung Jawab Keluarga Dalam Membina Remaja
Keluarga adalah kelompok manusia pertama yang ditemui setiap anak yang baru dilahirkan. Keluarga juga merupakan media pertama dan satu-satunya selama beberapa tahun yang mentransformasikan nilai-nilai, baik secara sengaja atau pun tidak sengaja, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pertumbuhan setiap anak selanjutnya.

Hal ini akan tampak jelas ketika anak itu kemudian dewasa, anak-anak yang mendapatkan pengasuhan yang baik dan memperoleh pendidikan yang cukup dalam keluarga akan berbeda dengan anak-anak yang pengasuhannya dalam keluarga tidak baik dan tidak memperoleh dasar pendidikan yang cukup.

Keluarga sebagai media atau lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak perlu menanamkan nilai-nilai agama, sosial dan budaya serta sifat-sifat alam dan lingkungan. Berkaitan dengan ini Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ...“ (QS. At-Tahrîm: 6).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kita, orang-orang beriman, supaya menjaga diri dan keluarganya dari siksa neraka. Cara menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka ialah dengan bersikap taat menjalankan agama dan mendidik istri serta anak-anak supaya beragama dengan baik. Sayidina `Alî RA. mengartikan perintah menjaga diri dan keluarga pada ayat ini dengan cara mendidik dan mengajari mereka, sedangkan Ibnu `Abbâs memahaminya dengan membiasakan mereka dengan ibadah dan amal-amal kebaikan (lihat: Ibnu Katsîr, Tafsîrul-Qurân al-`Azhîm, Beirut: Dârul-Fikr,1986, Jilid IV, h. 192).

Nilai-nilai atau norma agama, sosial dan budaya yang perlu ditanamkan pada anak-anak sejak dalam kehidupan keluarga adalah norma-norma yang bersifat tetap di masyarakat. Norma-norma ini ada yang bersifat sunatullah, yaitu ketentuan dan hukum Allah yang berlaku di alam ini. Ada juga yang berasal dari syariat agama. Norma-norma ini perlu dipahami dan dihayati oleh setiap orang supaya hidupnya selamat dunia dan akherat. Terwujud hubungan yang harmonis dalam masyarakat dan dengan alam lingkungan.

Semua ketentuan dan norma-norma hidup ini perlu disosialisasikan kepada semua anak sejak dari kehidupan mereka di keluarga  supaya dalam menghadapi kehidupan luas di masyarakat nanti mereka tidak mengalami banyak kesulitan.

Adapun penyampaiannya dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain seperti:

a) Metode penyampaian kisah-kisah kepahlawanan, kisah para nabi dan para sahabat Nabi, atau tokoh-tokoh legenda di masyarakat;

b) Metode keteladanan atau uswatun hasanah dari orang tua, pemimpin masyarakat, dan para ulama, masyarakat secara umum;

c) Metode pemberian nasehat atau mau`izhah hasanah, yaitu nasehat-nasehat dan pengajaran yang baik;

d) Membiasakan atau ta`wîd, seperti membiasakan anak melaksanakan salat jamaah, berpuasa wajib maupun sunah, memberi makan orang fakir miskin, mengeluarkan sedekah, membaca doa sebelum makan, sebelum tidur, sesudah makan, bangun tidur dll;

e) Dalam suasana santai mengadakan tanya jawab, diskusi, mengajak introspeksi, dan lain-lain;

f) Penugasan seperti memberikan tanggung jawab untuk memimpin kepanitiaan, berkomunikasi atau berkonsultasi dengan orang lain, baik dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain sebagainya.

Jika sosialisasi ini berhasil dalam kehidupan keluarga, insya Allah masa depan remaja dan anak-anak pada umumnya akan lebih baik, lebih siap menghadapi problem kehidupan yang beraneka ragam (lihat: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Pembangunan Generasi Muda; Tafsir Al-Qur`an Tematik, cet. Ke-1, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, 2011/1432, h. 152—153).

Tanggung Jawab Masyarakat
Generasi muda adalah salah satu komponen masyarakat yang sangat didambakan partisipasinya dalam mewujudkan masyarakat ideal di masa depan. Mereka memerlukan dukungan moril dan materiil generasi tua untuk tumbuh dan berkembang. Peranan masyarakat sangat penting, sebab remaja pada umumnya belum siap untuk bermasyarakat sepenuhnya. Bimbingan masyarakat amat dibutuhkan agar remaja tidak salah arah, karena di masyarakat amat banyak pengaruh negatif yang dapat menyengsarakan masa depan mereka.

Pelayanan kepemudaan dapat dilakukan melalui strategi peningkatan kapasitas dan kompetensi pemuda, pendampingan pemuda, perluasan kesempatan memperoleh, meningkatkan pendidikan serta keterampilannya. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan mereka sebagai panitia sekaligus peserta pelatihan keterampilan, organisasi, manajemen, kesadaran hukum, pengembangan ekonomi masyarakat, dan sebagainya serta melalui organisasi kepanduan (kepramukaan), remaja masjid dan karang taruna.

Tanggung Jawab Pemerintah
Islam menekankan pentingnya pembinaan terhadap generasi muda. Sebab, proses alih generasi akan berjalan terus secara alamiah sesuai dengan mekanismenya.

Berkaitan dengan pembinaan generasi muda di atas, pemerintah memiliki tanggung jawab paling besar, untuk menjalankannya. Ini sesuai dengan tugasnya sebagai pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemerintah bertanggung jawab menjamin kemaslahatan seluruh rakyatnya, tanpa terkecuali generasi muda, sehingga apapun kebijakan yang dibuatnya selalu mengacu kepada kemaslahatan rakyatnya. Sebuah kaidah yang cukup terkenal berbunyi: tasharruful-imâm `alar-ra`iyyah manûthun bil-mashlahah (kebijakan pemimpin atas rakyatnya harus mengacu pada kemaslahatan).

Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah dalam pembinaan generasi muda adalah menetapkan arah kebijakan yang terencana dan terukur. Terencana maksudnya perencanaan disusun berdasarkan dasar-dasar yang jelas. Terukur maksudnya adalah adanya penetapan indikator-indikator keberhasilan yang jelas.

Berkaitan dengan ini, Abdullâh Qâdirî al-Ahdal, dalam bukunya, Mas`ûliyyah fil-Islâm, menuturkan beberapa kewajiban pemimpin berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang dipimpinnya. Antara lain:

1- Tatsbîtul-îmân ash-shâdiq fî nufûsihim, menanamkan keimanan yang kuat ke dalam jiwa generasi muda agar tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan berbagai unsur luar ajaran Islam yang dapat menghancurkan keyakinan mereka. Inilah yang dinamakan dengan pembinaan spiritual (at-tarbiyah ar-rûhiyyah) yang menjadikan generasi muda mempunyai ketangguhan dalam menghadapi berbagai rintangan;

2- Tamrînuhum `alâs-sulûk al-hasan, membiasakan generasi muda untuk berakhlak yang baik sehingga jiwa mereka terpatri oleh sifat-sifat terpuji seperti teguh, sabar, berani, dan penyayang. Akhlak mulia merupakan salah satu tujuan pembinaan generasi muda, karena dengan akhlak yang mulia pulalah terjadinya degradasi moral generasi muda dapat dihindari;

3- Mulâhazhatuhûm `alâ adâ`isy-sya`âir al-islâmiyyah, mengondisikan mereka menjalankan syiar-syiar ajaran Islam, seperti salat, puasa, haji dan lain sebagainya;

4- Hatstsuhum `alâ thâ`ati ru`ûsihim, mendorong mereka untuk menaati aturan-aturan pemerintah, sehingga identitas mereka sebagai pembela ajaran Allah dan pembela negara;

5- Tadzkîruhum bil-yaumil-âkhir, mengingatkan mereka akan hari akhir dan apa yang dijanjikan Allah untuk orang yang berbuat kebajikan, dan orang yang berbuat kejahatan;

6- Batstsu rûhil-jihâd fîhim, menanamkan spirit perjuangan/jihad ke dalam jiwa mereka sehingga lebih dicintai dari pada hingar bingar kenikmatan dunia. (Lihat: `Abdullâh Qâdirî al-Ahdal, Mas`ûliyyah fil-Islâm, cet. III, h. 35 dst.)

Untuk menghindari terjadinya generasi muda yang bobrok, tak kalah penting dari keenam kewajiban di atas, pemerintah pun berkewajiban memfasilitasi pendidikan dan lapangan kerja yang luas untuk generasi muda.

Secara pasti, dapat dikatakan bahwa agama memiliki peranan yang penting dalam menangkal terjadinya generasi yang bobrok. Berdasarkan penelitian Zakiah Daradjat, agama ternyata berhasil menyelamatkan generasi muda dari berbagai kondisi psikologis yang mengiringi pertumbuhan fisiknya seperti cemas, frustasi, konflik jiwa, dan rasa berdosa. Maka, pemerintah bertanggung jawab terciptanya kondisi yang kondusif yang generasi muda dalam menuntut ilmu agama bagi setiap muslim dan menjalankan agamanya.

Penutup
Pemuda merupakan ikon semangat dan kekuatan, karena masa muda merupakan fase terbaik dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, kita banyak menemukan teks agama yang memperingatkan kita agar tidak melalaikan masa muda, di antaranya sabda Rasulullah SAW.  “Gunakanlah yang lima sebelum datangnya lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehat sebelum sakit, kekayaanmu sebelum jatuh miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum datang kematian.” (HR. al-Hâkim dari Ibnu `Abbâs)

Alquran banyak mengisahkan para pemuda yang patut diteladani oleh pemuda saat ini, di antaranya Nabi Ibrâhîm a.s. yang memiliki idealisme keimanan yang tinggi, seorang pemuda yang berpikiran kritis dan logis,  mempunyai semangat juang yang tinggi, dan sosok yang bertanggung jawab; Nabi Mûsâ, pemuda yang memiliki dedikasi terhadap pekerjaan, memiliki kompetensi, dan pengabdian kepada orang banyak; Ashhâbul-Kahfi, kumpulan pemuda yang teguh dalam mempertahankan keimanan; dan Nabi Yûsuf, sosok pemuda yang berakhlak mulia, yang tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai kesulitan yang menimpa dirinya sehingga menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi kesulitan sekaligus meraih puncak prestasi kemuliaan dunia dan akherat.

Setidaknya ada tiga faktor yang menjadi pendorong terwujudnya generasi cemerlang sebagaimana yang terdapat pada sosok-sosok pemuda teladan di atas. Faktor pertama adalah keluarga. Generasi muda diharapkan memiliki kesadaran penuh dan memahami kedudukannya sebagai seorang hamba. Mereka miliki visi hidup yang berorientasi tidak hanya dunia tapi juga akherat, sesuai dengan Islam sehingga perilaku mereka pun akan senantiasa menyesuaikan. Hal ini tentu tidak akan terwujud manakala keluarga tidak menanamkan sejak dini. Faktor kedua adalah masyarakat, dalam hal ini bisa pendidik (lingkungan sekolah) maupun lingkungan masyarakat. Keberhasilan anak di lingkungan keluarga tidak bisa menjamin manakala ternyata di lingkungan luarnya tidak bisa mendukung. Masyarakat, terutama pendidik yang mewakili lingkungan sekolah setidaknya harus mengajarkan dan mencontohkan nilai-nilai sesuai Islam serta menjadi kontrol bagi anak manakala yang mereka melakukan penyimpangan yang tidak sesuai aturan Islam. Faktor ketiga yang menjadi penentu besar keberlangsungan pendidikan bagi generasi ini adalah pemerintah. Bagaimana peran pemerintah dalam menciptakan atmosfer pendidikan bagi generasi cemerlang sangat penting. Mulai dari bagaimana penerapan sistem pendidikan yang sesuai dengan sistem pendidikan Islam, sampai peran negara dalam memfilter informasi-informasi yang tidak baik.

Dengan ketiga faktor tersebut maka target untuk menghasilkan generasi pencetak peradaban yang unggul seperti zaman peradaban Islam yang dikenal sebagai era keemasan atau “The Golden Age” akan tercapai. Semoga.