Media Informasi Dan Dakwah Pondok Pesantren Al-Ihsan Gembong

KH. ABDUL WAHAB HASBULLAH; SANG PAHLAWAN NASIONAL

KH. ABDUL WAHAB HASBULLAH; SANG PAHLAWAN NASIONAL





KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang sangat alim dan tokoh besar dalam NU dan bangsa Indonesia. Beliau dilahirkan di Desa Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada 31 Maret 1888. Ayah beliau adalah Kiai Hasbullah Sa`id, pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah.

 Kiai Hasbullah adalah putra dari Nyai Fatimah binti Abdus Salam (Kiai Sihah) yang tak lain adalah saudara kandung Nyai Layyinah binti Abdus Salam, ibu dari Nyai Halimah yang merupakan ibunda ulama paling masyhur di awal abad ke-20 yang juga berasal dari Jombang, yaitu Hadhratusy-Syaikh KH Hasyim Asy`ari. Jika diurut ke atas, nasab keluarga ini akan bermuara pada Lembu Peteng, salah seorang raja di Majapahit.

Seperti kebiasaan pola hidup di pesantren, KH. Wahab pun hidup dengan sangat sederhana. Beliau selalu dilukiskan sebagai orang yang energik, penuh semangat, ramah dan berwibawa. Pancaran sinar wajahnya menyimpan aura kelembutan dan kasih sayang. Selain pemurah Kiai yang satu ini sulit untuk marah dan dendam. Meskipun orangnya kecil, beliau tampak selalu bersikap gagah. Beliau juga terkenal sebagai kiai yang sangat ahli dalam ilmu ushul fikih.

Latar Belakang Pendidikan
Semenjak kanak-kanak, beliau dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala permainan. Karena beliau tumbuh di lingkungan pondok pesantren, maka mulai sejak dini beliau diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar. Beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya sendiri cara hidup sebagai seorang santri. Beliau diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk salat tahajjud. Kemudian KH. Hasbullah membimbingnya untuk menghafalkan Juz `Amma dan membaca Alquran dengan tartil dan fasih. Lalu beliau dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliah sehari-hari. Misalnya Kitab Safinatun-Naja, Fathul-Qarib, Fathul-Mu'in, Fathul-Wahhab, al-Muhadzdzab dan al-Majmu'. Beliau juga belajar ilmu tauhid, tafsir, `Ulumul-Qur'an, hadis, dan `Ulumul-Hadits.

Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sampai berusia 13 tahun beliau dalam asuhan langsung ayahnya. Setelah dianggap cukup bekal ilmunya, barulah beliau merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya. Kemudian belajar di pesantren Bangkalan, Madura yang diasuh oleh KH. Kholil Bangkalan.

Beliau tidak puas hanya belajar di pesantren-pesantren tersebut, maka pada usia sekitar 27 tahun, beliau pergi ke Mekah. Di tanah suci itu beliau mukim selama 5 tahun, dan belajar pada Syekh Machfudz Termas, Syekh Ahmad Chotib Minangkabau, Syekh Sa'id al-Yamani dan Syekh 'Umar Bajened, dll. Setelah pulang ke tanah air, KH. Wahab langsung diterima oleh umat Islam dan para ulama dengan penuh kebanggaan.

Kiai Penuh Prestasi
Prestasi-prestasi KH. Wahab Hasbullah sangat banyak sekali. Seperti mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar tahun 1914, mendirikan pergerakan Nahdlatul Wathon dan Syubbanul Wathon bersama KH. Mas Mansur, memprakarsai pembentukan Komite Hijaz, memprakarsai berdirinya NU. Khusus untuk NU, KH. Wahab tidak sekadar menjadi tokoh dan pendiri, melainkan juga sebagai simbol pemersatu, ruh sekaligus motor penggerak NU, sejak NU berwujud kelompok kecil yang tidak diperhitungkan sampai menjadi jam`iyah Islam terbesar di Indonesia.

Di bidang jurnalistik, beliau merintis majalah Suara Nahdlatul Ulama yang terbit setengah bulan sekali. Beliau memandang, bahwa dengan majalah gagasan-gagasan NU dapat tersebar secara lebih efektif dan efisien. Sebelumnya gagasan NU hanya dijalankan melalui dakwah dari panggung ke panggung dan pengajaran di pesantren. Selain itu beliau bersama dengan tokoh NU lainnya membeli gedung di Jalan Sasak 23 Surabaya sebagai pusat aktivitas NU. Berangkat dari gagasan KH. Wahab di bidang jurnalistik ini kemudian menyusul terbitnya majalah-malajah lain, seperti Suluh Nahdlatul Ulama, Terompet Ansor dan majalah Penggugah yang berbahasa Jawa.

KH. Wahab juga dikenal sebagai pengatur strategi perjuangan yang baik dalam kancah politik Islam. Beberapa prestasinya adalah seperti pembentukan MIAI (Majelis Islam `Ala Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan Masyumi. Lewat pergerakan inilah KH. Wahab terlibat dengan tokoh-tokoh terkemuka, seperti K. Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syarifuddin, dsb.

Di samping prestasi-prestasi yang tersebut di atas perlu dicatat juga dalam diri KH. Wahab adalah keaktifannya dalam gerakan-gerakan melawan penjajah untuk membebaskan negara ini dari kungkungan penjajajah seperti dibuktikannya dalam Laskar Hizbullah pimpinan KH. Zainal Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan KH. Masykur dan Barisan Kiai pimpinan beliau sendiri untuk berperang melawan penjajah. Komite Hijaz sebagai Benteng Islam Aswaja Prestasi gemilang lainnya adalah keberhasilannya memperjuangkan kepentingan kaum sunni untuk mendapat perlindungan dan kebebasan di negara Arab Saudi dalam Kongres Dunia Islam di Mekkah. Pada saat itu Raja Saud Arab Saudi melarang berkembangnya faham sunni di negara kekuasaannya. Akan tetapi karena usulan KH. Wahab beserta tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Komite Hijaz, diantaranya KH Bisri Syansuri, K. Ridwan Semarang, KH Raden Asnawi Kudus, K. Nawawi Pasuruan, K. Nachrowi Malang dan K. Alwi Abdul Aziz Surabaya akhirnya Raja Saud membebaskan paham sunni hidup dan berkembang di Mekah.

Kecintaan KH. Wahab terhadap tanah air sungguh tiada tara. Hal ini dibuktikan beliau dengan berusaha membangunkan semangat nasionalisme melalui lembaga Nahdlatul Wathon yang didirikan oleh beliau. Lembaga pendidikan ini dijadikan beliau sebagai markas penggemblengan pemuda-pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Setiap akan dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dulu menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab, yang telah dikarang oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam bentuk syair. Syair tersebut berbunyi, “Ya lal wathon ya lal wathon ya lal wathon. Hubbul wathon minal Iman. Wala takun minal hirman, inhadlu alal wathon. Ya lal wathon ya lal wathon ya lal wathon. Hubbul wathon minal iman. Wala takun minal hirman, inhadlu alal wathon. Indonesia Biladi Anta`…….dst.

Mars “Syubbanul Wathontersebut merupakan lagu yang sengaja didesain oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah untuk menggugah semangat perjuangan. Dahulu, mars yang berisi tentang rasa kecintaan terhadap tanah air ini dinyanyikan untuk membangkitkan semangat tentara Hizbullah pejuang kemerdekaan.


Resolusi Jihad
Pada masa perjuangan dulu pernah terdapat sejarah Resolusi jihad yang telah turut membakar kobaran perlawanan tentara Surabaya terhadap tentara sekutu. Resolusi Jihad dilatarbelakangi permintaan dari Soekarno, Hatta dan Panglima Soedirman kepada Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari, fatwa bagaimana hukumnya membela tanah air. Dari situlah para ulama berkumpul dalam pertemuan ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945, dan akhirnya menghasilkan Resolusi Jihad, yang menemukan momentum yang tepat di Surabaya.

Dalam catatan sejarah dijelaskan, ketika fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan, Kiai Wahab yang waktu itu menjadi Katib `Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan fatwa tersebut di lapangan. Fatwa Resolusi Jihad ini akhirnya menjadi pembakar semangat pejuang-pejuang Surabaya yang mayoritas adalah muslim dalam pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA alias Sekutu.

Wafatnya KH. Abdul Wahab Hasbullah
Sebelum wafat KH. Wahab masih sempat menghadiri Muktamar NU ke-25 di Surabaya dan terpilih sebagai Rois `Am PBNU. Pada saat itu, beliau sudah sangat sepuh, dan dalam keadaan sakit hingga tak mampu bangkit dari pembaringan. Meskipun demikian, beliau juga masih sempat memberikan suaranya bagi partai NU dalam pemilu tahun 1971. Menurut beliau, menghadiri Muktamar NU dan memberikan suara pada pemilu adalah bagian dari salah satu perjuangan, karena perjuangan adalah bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan. Kemudian empat hari setelah Muktamar NU di Surabaya, Kiai yang banyak berjasa terhadap bangsa ini dipanggil kehadirat Allah swt. Beliau wafat pada 29 Desember 1971 di kediamannya yang sederhana di kompleks pesantren Tambakberas, Jombang.

Begitulah sosok KH. Wahab Hasbullah, Kiai yang diberkati memperoleh kesempatan hidup dan berjuang dalam tiga zaman, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan (Orde Lama) dan zaman pembangunan (Orde Baru). Dan berkat jasanya yang tidak sedikit kepada negeri ini akhirnya pemerintah Indonesia secara resmi mengakui KH. Wahab Hasbullah sebagai Pahlawan Nasional.