Ummul-Aswad binti Zaid al-'Adawiyyah menceritakan sebuah perkataan dari Mu'adzah al-'Adawiyyah, seorang wanita yang pernah menyusuinya dulu. Ia berkata: "Mu'adzah dahulu pernah mengatakan sesuatu tatkala Abush-Shahba', suaminya, serta sang anak mati terbunuh,
"Demi Allah, wahai putriku! Bukanlah rasa cintaku terhadap hidup di dunia (ini) berlandaskan tujuan untuk menikmati kesenangan hidup atau kepuasan mengecap (hembusan) angin sepoi-sepoi. Akan tetapi, demi Allah, kucinta hidup (ini) agar aku (tetap) dapat mendekatkan diri kepada Tuhanku Azza wa Jalla melalui perantara-perantara (kehidupan dunia). Semoga (dengan ini) Tuhanku mengumpulkanku bersama Abush-Shahba' dan putranya kelak di surga." (Lihat: Mawa'izhush-Shalihin wash-Shalihat, Hani al-Hajj, hlm. 516)
Hidupmu dan hidup semua orang takkan lepas dari masa kelam dan riang, muram dan senang. Inilah hakikat kehidupan dunia. Karena itu, jika masa suram menghampirimu, terimalah itu sebagai suratan takdir-Nya. Bila nasib kelam menusuk-nusuk jantung nafasmu, relakanlah itu sebagai ujian iman dari-Nya.
Jangan pecahkan hatimu dengan hantaman kelam masa lalu, sehingga buatmu 'terjebak masa lalu'. Ingat, hati yang telah pecah sulit tuk dikumpulkan lagi puing-puingnya, lebih-lebih tuk menyusunnya seperti sedia kala.
Hatimu itu seumpama ladang rasa. Jangan kau tanami di dalamnya tanaman-tanaman tak berguna, seperti kecewa, muram durjana, iri, dengki, dendam dan tak menerima takdir-Nya.
Contohlah Mu'adzah al-'Adawiyyah. Meski musibah bertubi-tubi berusaha mengiris-iris kalbunya, ia tolak itu semua. Sang wanita penyabar ini lebih memilih mengisi ladang hatinya dengan rasa tabah, sabar dan rela terhadap takdir-Nya. Hatinya pun semakin subur karena diairi dengan siraman ibadah-ibadah taqarrub kepada-Nya. Dengan semua itu, bunga-bunga kebahagiaan senantiasa bermekaran di sisa hidupnya di dunia dan kelak di akhiratnya bersama sang suami dan anak tercinta.
